Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2020

AKHLAK, BUMN, dan Masa Depan Indonesia


Akhlak merupakan salah satu sifat yang disegani banyak orang. Mereka yang berakhlak tahu kapan harus berbuat dan memutuskan. Sebab, telah tertanam pada diri nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan etika-etika dalam kehidupan. Lantas, bagaimana jika akhlak itu ditancapkan pada nilai-nilai perusahaan? 

Seperti yang telah kita ketahui bersama, baru-baru ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan transformasi besar-besaran. Dari direksi, hingga logo. Harapannya tidak lain agar BUMN semakin baik kedepannya dan apa yang dicita-citakan tercapai. Hal ini tertera dalam UU BUMN No.19 Tahun 2003 tentang maksud dan tujuan BUMN, yakni menciptakan nilai tambah (keuntungan), dan menyelenggarakan kemanfaatan umum dan menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha baru (agent of development), dan dengan dukungan dari Kementerian BUMN. 

Salah satu transformasi yang dilakukan oleh Bapak Erick Tohir selaku Menteri BUMN yakni menjadikan AKHLAK sebagai Core Values perusahaan. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor: SE-7/MBU/07/2020 tentang Nilai-Nilai Utama (Core Values) Sumber Daya Manusia Badan Usaha Milik Negara pada tanggal 1 Juli tahun 2020. 

Jumat, 16 Agustus 2019

Belajar Unggul dari Guru Akhir

Dirgahayu Indonesia ke-74! Merdeka! Merdeka!

Tak terasa, Indonesia kembali menyatakan kemerdekaannya yang ke-74. Motto kemerdekaan kali ini yakni ‘SDM Unggul Indonesia Maju’. Unggul sendiri dapat diartikan sebagai lebih baik, lebih kuat, atau bahkan lebih utama. Sedangkan maju bisa bermakna terdepan. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam pidatonya di Gedung MPR RI secara tidak langsung menyinggung perihal ini. Katanya, Indonesia harus kreatif dan inovatif. Bahkan ia sangat menekankan hal tersebut mengingat kita sekarang berada di revolusi industry 4.0. Zaman di mana teknologi serba canggih.

Lantas siapa Guru Akhir? Apa hubungannya dengan pidato Pak Presiden? Guru Akhir adalah salah satu tokoh dalam novel ‘Orang-orang Biasa’ karya Andrea Hirata. Dia merupakan Guru Kesenian di sekolah yang bosan dengan hal yang itu-itu saja. Saat yang lain sedang semangat-semangatnya menyambut Agustus dengan ceria, memikirkan konsep karnaval pun, Guru Akhir malas.

“Lomba-lomba itu, kata Guru, hanya pengulangan-pengulangan, apresiasi-apresiasi itu, hanya basa-basi, karnaval-karnaval itu, hanya rombongan orang mendandani diri seadanya, yang penting berwarna-warni, lalu melenggak-lenggok di jalan aspal yang panas di bawah terik matahari pukul 2.00 siang….”(Hal.128).

Kita, atau mungkin kamu, bisa jadi satu dari representasi Guru Akhir. Kita sebenarnya orang yang berpikir kreatif atau out of the box thinker. Hanya saja, kita terjebak oleh rutinitas wilayah kerja kita. Alhasil, potensi untuk mengembangkan ide dan gagasan tidak tersalurkan dengan baik. Pun, ada juga yang mempunyai wacana menarik, tapi terhalang oleh atasan yang cuek dan lebih mementingkan keinginan pribadi.

Kalaulah seperti ini, tentu apa yang dislogankan ‘SDM Unggul, Indonesia Maju’ tidak akan merata. Baik itu dalam tataran pendidikan, budaya, atau industri. Tercapainya Indonesia Maju apabila kita saling merangkul, berdiskusi, hingga menciptakan aksi. Berpikir terbuka dan siap menerima tantangan. Pertanyaannya, kamu kah orangnya?

Selasa, 08 Desember 2015

IPK dan Arah Pendidikan Bangsa

Baru-baru ini,  Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi mengeluarkan pernyataan bahwa seseorang yang IPKnya di atas 3,5 akan dimudahkan untuk masuk ke Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernyataan ini perlu ditanggapi secara bijak. Mengingat, hal yang dibicarakan ialah masalah pendidikan. Sebagaimana kita ketahui, pendidikan ialah modal penting untuk kemajuan bangsa. Nelson Mandela bahkan menyebutnya sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.
 
Memudahkan para sarjana dengan IPK tinggi dapat ditinjau dalam tiga aspek. Yang pertama, IPK tinggi merupakan cerminan dari rajin atau giatnya seorang mahasiswa dalam perkuliahan. Semakin tinggi IPK, semakin berkualitas seseorang. Namun, inipun masih menyimpan pertanyaan. Sebab, apakah sama kualitas para alumni yang universitasnya menempati 10 besar dengan yang menempati urutan 100? Apakah sama kampus negeri dan swasta? 

Selain itu, hal ini juga memungkinkan para dosen atau pengajar melakukan kecurangan. Meski harus diakui, dalam kondisi sekarang pun sudah banyak kasus tidak sportif dalam perguruan tinggi. Terbukti, tidak sedikit mahasiswa yang hanya tiga kali menginjakkan kaki ke kampus. Saat mendaftar, saat ujian, dan saat wisuda.

Pandangan kedua yakni memudahkan IPK tinggi untuk masuk PNS dapat berpotensi menghilangkan skill seseorang. Mahasiswa lebih cenderung meningkatkan nilai akademiknya, dibanding mengupgrade kemampuan yang ia miliki. Apalagi, dalam berbagai riset yang menyatakan bahwa kebanyakan mahasiswa bermentalkan PNS. Maksudnya, ketika ditanya ‘Ingin jadi apa setelah kuliah?’, maka jawabannya yakni ingin menjadi PNS. Bahwa mempunyai IPK tinggi itu baik. Namun ada aspek-aspek lain yang lebih penting –bahkan urgent- untuk diperhatikan. 

Jika kita kembali pada imbauan Komisi Internasional tentang Pendidikan Abad  ke-21 dari UNESCO dalam hal “Learning The Treasure Within”, maka kita akan dapati bahwa para pelaku pendidikan di Indonesia ditantang untuk berperan secara maksimal dalam mempersiapkan sumber daya manusia dalam transformasi global. Tentu saja, untuk mencapai hal tersebut tidak hanya bermodalkan IPK yang tinggi.

Seorang mahasiswa harus menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang yang dipilihnya (learning to know); memiliki life skills, seperti komunikasi, kerja tim, pemecahan masalah, mengelola konflik, ketrampilan manual dan intelektual (learning to do); mengalami perkembangan menyeluruh, seperti intelegensia, kepekaan, estetika, tanggung jawab pribadi, dan nilai-nilai spiritual (learning to be); dan mampu menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai untuk hidup bersama (learning to live together).

Dalam studi sumber daya manusia (Human resources), pendidikan juga merupakan salah satu aspek terpenting kemajuan bangsa. Sebab, rendahnya kualitas SDM akan berdampak negatif pada segala dimensi, baik itu sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Tinggi rendahnya kualitas SDM dapat diukur dengan seberapa kreatif dan produktif seseorang ketika bekerja. Baik secara individu maupun dalam kelompok. Selain itu, ia juga harus mampu mengaplikasikan segala pengetahuan yang ia miliki. Tidak sebatas teori.

Seperti kata Achmad Sanusi dalam Pendidikan Alternatif, “Jika abad silam disebut abad kualitas produk/jasa, maka masa yang akan datang merupakan abad kualitas sumber daya manusia. SDM yang berkualitas dan pengembangan kualitas SDM bukan lagi merupakan isu-isu atau tema-tema retorik, melainkan merupakan taruhan atau andalan serta ujian setiap individu, kelompok, golongan masyarakat, dan bahkan setiap bangsa.” 

***

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, kita dituntut agar mampu menghadapi persaingan yang semakin kompetitif. Terlebih lagi dengan dicanangkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Masyarakat harus cerdas memilah mana yang baik dan buruk. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan sia-sia jika dekadensi moral terus berlanjut. Pendidikan sebagai jalan menuju arah yang lebih baik pada akhirnya masih menemukan banyak rintangan-rintangan. Dan ini bukan saja PR pemerintah, namun PR kita semua. Wallahu ‘alam!

2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Islamisasi Sebagai Upaya Membentuk Peradaban

Dalam suatu diskusi tentang Islamisasi di Fakultas Agama Islam UNISMUH (16/1/2015), Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud ditanya oleh salah seorang dosen. "Kami di sini mengajar Islam 100 persen. Kami mengajarkan bahasa arab, alquran, dan hadits. Apakah perlu Islamisasi lagi?". Prof. Wan menjawab, "Perlu. Karena orang kafir Qurais, musuh-musuh Islam, pintar bahasa arab dan belajar Islam. Oleh karena itu perlu Islamisasi."

Pernyataan Prof. Wan bukan tanpa sebab. Dewasa ini, begitu banyak ilmu pengetahuan diserap tapi tak dilandasi dengan keimanan. Ilmu pengetahuan tak lagi merujuk pada alquran ataupun hadits. Agama disimpan dalam laci. Barat menjadi kiblat ketika menerima pengetahuan. Alhasil, produk-produk yang keluar ialah intelektual yang sekuler. Yang sangat mengkhawatirkan ialah ilmu-ilmu sekuler itu merebak ke sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi negeri.

Islamisasi ialah salah satu jalan agar keluar dari jaring-jaring sekuler. Islamisasi ilmu tidak lah sama dengan labelisasi. Islamisasi merupakan sarana mengintegrasikan ilmu dunia –entah itu sosial, ekonomi, politik- dengan aspek akhirat. 

Islamisasi yakni suatu konsep bagaimana menjadikan ketauhidan dalam memperoleh ilmu. Seperti kata Prof. Syed Naqub al-Attas, bahwa Islamisasi adalah, “pembebasan manusia dari unsur magic, mitologi, animisme, dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta dari penguasaan sekuler atas akal dan bahasannya. Ini berarti pembebasan akal atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh kecenderungan sekuler, primordial dan mitologi.”

Tentu saja, orang yang ingin mengislamisasi ilmu perlu memenuhi prasyarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam (the Islamic world view). Sebab tidak semua yang dari Barat ditolak secara keseluruhan. Ada ilmu-ilmu yang pada dasarnya tidak bertentangan dengan kaidah Islam. 

Dalam melakukan Islamisasi –menurut Ismail Raji al-Faruqi-, ada usaha-usaha dalam mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali simpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam. 

Islamisasi Kampus

Kampus ialah salah satu basis ilmu pengetahuan yang tertinggi. Oleh karena itu, mengislamisasi kampus sama saja dengan berusaha menghasilkan cendekiawan Islam yang mumpuni. Sayangnya kampus Islam saat ini belum cukup dalam menghadapi tantangan sekularisasi. Karena hal demikian, tak heran mengapa ada sindiran ‘Universitas insyallah Islam.”

Islamisasi kampus menurut Dr. Rofiq Anwar, Mantan Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang, ialah upaya mengembalikan kehidupan Islam di kampus, baik kehidupan budaya masyarakat kampus dalam keseharian maupun ilmu-ilmunya. 

Setidaknya, terdapat beberapa wilayah yang perlu dilakukan dalam rangka Islamisasi kampus. Pertama, menyatukan pendididikan sekuler dengan agama. Hal ini dapat dicapai dengan cara mengislamisasikan sistem sekuler dan memodernisasikan sistem agama.

Kedua, penanaman visi Islam. Dalam rangka mewujudkan Islamisasi kampus, setiap kampus, universitas harus berpihak pada perwujudan dan pada nilai-nilai Islam. Kampus tidak boleh netral dalam setiap lini ilmu pengetahuan. Kampus harus peka dan memilah pelajaran-pelajaran yang diajarkan agar tidak tersandung oleh adanya sekularisasi. Dalam hal transfer ilmu, pengajar juga harus pendidik muslim dan yakin akan kebenaran alquran dan hadits. Bukan Orientalis non-muslim

Ketiga, Islamisasi kurikulum. Sebagai grand design dalam pendidikan, peran kurikulum begitu penting. Karena, dengan melihat kurikulum, kita bisa mengetahui seperti apa hasil didikannya nanti. Dunia pendidikan diharapkan mampu menghasilkan orang-orang yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan dengan ketinggian ilmunya siap memimpin bangsa dan membangun bangsa yang merdeka lagi bermartabat.

Keempat, Islamisasi Sains-Ilmu Sosial. Dalam perkembangan Barat, upaya memahami realitas sosial seringkali disamakan dengan cara pandang kajian-kajian ilmu alam. Dalam hal ini, menurut Al-Faruqi upaya mengislamisasikan ilmu sosial dianggap tidak kalah penting dibanding ilmu-ilmu alam. 

Perjuangan Islamisasi pada akhirnya masih dipenuhi banyak tantangan. Meskipun menurut sebagian orang nyinyir kalau ini perjuangan mengejar utopia. Namun, sebagai seorang muslim, kita yakin, ini adalah modal mengembangkan jejak-jejak peradaban. Wallahu ‘alam!



Senin, 29 Juni 2015

Homoseksual

This ruling is a victory for America,” kata Presiden Obama setelah melegalkan homoseksual 50 negara bagian di Amerika. Setelah pelegalan itu, berbagai artis atau yang pro-homoseksual mengedit foto profil mereka dengan garis pelangi –sebagai tanda kesetaraan. Bahkan, website terkenal seperti Youtube dan Twitter turut andil dalam mengganti avatar akun twitter mereka.

Praktik Homoseksual atau interaksi seksual sesama jenis kelamin ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, baru dikemukakan istilahnya pada abad ke-19. Dalam perkembangannya, homoseksual menyebar ke Bangsa Yunani dan Romawi. Selama era Renaisans, kota-kota kaya di Italia – Florence dan Venesia khususnya – terkenal karena praktik cinta sesama jenis yang melibatkan sebagian besar populasi laki-laki dan terbentang di sepanjang pola klasik Yunani dan Roma. Kemudian tren ini menyebar ke Perancis dan Jerman pada abad ke-13 serta ke Amerika pada 1948.

Di Jepang, homoseksual lebih dikenal dengan istilah ‘shudo’ atau ‘nanshoku’. Dan ini telah ada sejak lebih dari seribu tahun dan memiliki beberapa kaitan dengan kehidupan monastik Buddhis dan tradisi Samurai. Budaya cinta sesama jenis kemudian melahirkan tradisi yang kuat dalam seni lukis dan sastra Jepang. Di Thailand, praktik homoseksualitas dikemas sebagai kathoey atau ‘ladyboy’ telah menjadi corak masyarakat Thailand selama berabad-abad dan raja-raja Thailand memiliki pasangan baik laki-laki maupun perempuan. 

Perjalanan homoseksual bukan berjalan begitu saja. Di era Mesir kuno, masyarakat berupaya untuk mengharamkan hubungan tersebut. Praktik homoseksual dijerat dengan hukuman mati. Di Perancis sendiri pada abad ke-13, ketika homoseksual mulai menyebar, Kerajaan Perancis segera membentuk Undang-Undang Hukuman mati bagi penganut homoseksual.

Jika ditinjau dari sudut pandang agama, maka kita akan menemukan pengharaman akan homoseksual. Baik dari agama Yahudi, Kristen, maupun Islam. Dalam kitab Imamat (Leviticus) 20:13, disebutkan: “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.”

Dalam Islam sendiri, perbuatan homoseksual termasuk perilaku yang keji dan sanksinya amat berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Namun, karena alasan hak asasi manusia atau humanisme, tidak sedikit yang mendukung perbuatan ini. Persis seperti yang dikatakan Obama, “same-sex couples should have the same rights as anybody else

Di Indonesia, upaya melegalkan homoseksual banyak digalakkan oleh kaum liberal. Metode yang dipakai untuk mensahkanpun dengan merumuskan model penafsiran baru terhadap Al-Quran dan Hadits. Sebut saja Prof. Musdah Mulia yang terang-terangan mendukung homoseksual. Katanya, “Sepanjang bacaan saya terhadap kisah Nabi Luth yang dikisahkan dalam Al-Quran (al-A’raf 80-84 dan Hud 77-82) ini, tidak ada larangan eksplisit baik untuk homo maupun lesbian. Yang dilarang adalah perilaku seksual dalam bentuk sodomi atau liwath.”

Selama belasan abad, belum ada satupun ijtihad ulama yang membolehkan penafsiran seperti ini. Atau dengan kata lain, Prof. Musdah Mulia seakan menyalahkan fatwa ribuan ulama. Logika Prof. Musdah Mulia dengan sampel eksplisit pun tidak jelas. Sebab, jika menggunakan logika seperti ini, kawin dengan anjing bahkan patung bisa dihalalkan karena tidak sebutkan dalam Al-Quran.

Padahal, kebejatan perilaku seksual zaman Nabi Luth telah sangat jelas dipaparkan. Dan ini kembali ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah). Buya Hamka bahkan menjelaskan bahwa perilaku seksual antar sesama jenis ini lebih rendah martabatnya dibandingkan binatang. Binatang saja, kata Hamka, masih tahu mana lawan jenisnya. Presiden Zimbabwe, Robert Mugeba –sebagai tokoh yang sangat menentang homoseksual- juga mengatakan, “They are worse than dogs and pigs.”

Jika perilaku homoseksual lebih hina dibandingkan binatang, maka patutlah kita mempertanyakan pelegalannya di Amerika. Apakah ini bukti kemajuan suatu peradaban barat ataukah tanda runtuhnya peradaban barat itu sendiri?


Juni, 2015

Senin, 02 Februari 2015

Mengenang Mohammad Natsir

Salah satu tokoh nasional kebanggaan umat yang pernah hadir di negeri ini yakni Mohammad Natsir. Ia sering dikenal sebagai tokoh dakwah dan politik. Ia lahir di Alahan Panjang, Sumater Barat, 17 Juli 1908 dan wafat di Jakarta 6 Februari 1993. 

Natsir lahir dari pasangan suami-istri Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu Agama dan ilmu lain. Bahkan diusianya yang masih belia, ia sudah menguasai bahasa arab. Tak heran, dalam waktu singkat ia sudah bisa membaca kitab kuning. 

Natsir juga merupakan sosok yang haus ilmu. Ini ditandai dengan mengejar ketertinggalannya dalam menguasai Bahasa Belanda - bahasa kaum elit terpelajar saat itu. Selain itu, kegemarannya membaca buku membuat wawasannya semakin luas. Ia juga merupakan penulis yang produktif. Terbukti ada puluhan buku yang ia tulis, yakni: Capita Selecta, Fiqh Dakwah, Islam sebagai Dasar Negara, dan lain-lain. Pada tanggal 10 November 2008, ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai menteri yang tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Ia juga dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberikan hadiah mobil mewah. Tanda bahwa ia adalah seorang yang tidak tergiur dengan dunia. 

Salah satu prestasi spektakuler Natsir yang terekam sejarah yakni statemennya yang dikenal dengan ‘Mosi Integral Natsir’. Pernyataan itu ia lontarkan ketika Indonesia menjadi Negara serikat sebagai produk dari Komperensi Meja Bundar (KMB), melalui sidang RIS (Republik
Indonesia Serikat) tahun 1950. Akibat dari mosi itu, Indonesia yang sudah terpecah kedalam 17 negara bagian dapat bersatu kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Atas jasanya itu, Soekarno mengangkatnya sebagai Perdana Menteri RI.

Di dunia Internasional, Mohammad Natsir memegang beberapa amanah. Diantaranya pada tahun 1967, dimana ia menjadi wakil Presiden Muktamar Alam Islami yang bermarkas di Karachi (Pakistan) dan anggota Liga Musim Dunia yang bermarkas di Makkah. Pada tahun 1972, ia diangkat menjadi anggota Kehormatan Majelis Ta’sisi Rabithah al-Alam Insani yang berkedudukan di Mekah Saudi Arabia. Atas jasa-jasanya memimpin organisasi tersebut, pada tahun 1980 Kerajaan Arab Saudi memberikan penghargaan “Faisal Award” sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdiannya pada Islam

Natsir dan Umat Islam

Jasa Natsir terhadap umat Islam sangatlah besar. Dirintisnya pendidikan yang ia beri nama 'Pendidikan Islam' (Pendis) adalah salah satu bentuk kepeduliannya saat itu. Mengingat masalah penting umat saat itu yakni kebodohan umat Islam terhadap agamanya sendiri. Ia juga mempunyai peranan penting terhadap pendirian beberapa universitas, seperti; Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan lain sebagainya.

Perjuangan Natsir dalam mengatasi problematika umat Islam tentulah tidak mudah. Tahun 1932-1934, ketika Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung, ia harus harus mengkonsep kurikulum, mengajar dan mengelola guru-gurunya. Ia juga berjuang mencari dana untuk sekolahnya. Bahkan, untuk menghidupi sekolah ini, ia harus menggadaikan gelang istrinya. 

Natsir juga sangat getol dalam membendung arus sekularisasi. Ia tak segan-segan mendukung Prof. Dr. H.M Rasjidi dan tokoh-tokoh lain dalam menentang gagasan sekularisasi yang dibawa oleh Nurcholis Madjid. Meski Natsir menganggap bahwa Nurcholis Madjid adalah 'anak sendiri' nya, namun Natsir risau dengan hasrat gagasan Pembaharuan yang ingin menjauhkan diri dari "cita-cita akidah dan umat Islam" yang dibawakan oleh Nurcholis Madjid. Dalam pesannya seperti yang dikutip oleh Adian Husaini, ada tiga tantangan dakwah yang sedang dihadapi; Sekularisasi yang menjelma menjadi liberalisasi, nativisasi yakni mengembalikan Indonesia kembali pada jaman pra Islam, dan Kristenisasi. 

Masalah lain yang juga ditanggapi oleh Natsir saat itu yakni penyakit cinta dunia. Beberapa tahun menjelang wafatnya, ia berpesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, "Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia." Lebih jauh, Natsir menjelaskan, "Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan merupakan gejala yang 'baru', tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian elit masyarakat). Tetapi, gejala yang 'baru' ini, akhir-akhir ini terasa amat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa umat Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius."

Jika kita melihat masalah umat dahulu tak jauh berbeda dengan umat yang sekarang. Tersebarnya virus sekularisme –yang berujung pada liberalisme-, cinta dunia, dan ketidaktahuan akan agama juga dialami kaum muslim saat ini. Apa yang dicita-citakan Mohammad Natsir juga merupakan cita-cita umat Islam. Jika Natsir berjuang dengan segala ilmu dan lembaga/organisasi yang ia punyai demi kepentingan umat Islam, maka mari lanjutkan impian kita dengan segala kemampuan dan potensi yang kita punyai. Wallahu ‘alam!

Februari, 2015


Minggu, 01 Februari 2015

Batu

Bulan lalu, teman saya Wahyu menghampiri. "Ndak mauko beli batu?" ucapnya tiba-tiba. Tiba-tiba tawa saya keluar begitu saja. Sebab saya agak gimana gitu (sulit membahasakannnya) lihat fenomena batu sekarang. Mungkin karena terlalu banyak menikmati lelucon mengenai batu, akhirnya saya ketawa. Salah satu lelucon yang saya ingat yakni tentang seseorang apabila ayahnya belum pulang kerumah, maka pergilah ke tempat jual batu. Asli, saya langsung ketawa mendengar lelucon itu. Di beberapa Meme dan Komik di Indonesia juga banyak yang menjadikan batu sebagai objek lelucon mereka.

Tapi, kalau ditelisik batu dari berbagai sudut pandang, ternyata banyak juga pengaruhnya terhadap masyarakat. Jika ditinjau dari ekonomi, manfaat batu sangat dirasakan bagi para penjual batu. Harganya yang berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta membuat banyak orang yang beralih profesi. Apalagi jika batu tersebut dipacilla' (dikilapkan) dan batu tersebut bening. Makin banyak lah yang tertarik. Di Enrekang, ada anak SMP yang meraup lima juta rupiah hanya karena menjual batu sisik naga (Kompas.com). Hebat kan? Lumayan lah, bisa membantu keluarga.

Bagi para konsumen, jangan asal beli juga. Jangan boros. Jangan sampai, kita mempunyai batu bejibun dirumah, tapi daya beli bahan-bahan pokok untuk kebutuhan keluarga tidak diperhatikan. Ingat anak yang butuh susu dan uang sekolah. Dan jangan lupa istri yang nagih gaji bulanannya. Jangan sampai gajinya dipakai beli batu lagi. Grrr.

Yang menarik, ketika kemarin saya stalking gambar twitter dari Pak Walikota Padang, H. Mahyeldi (@MahyeldiPadang). Disitu ia mengupload kartu anggota Komunitas Batu Akik Mulia. Sejenak saya berpikir, "Oh, ada juga yah ternyata komunitasnya." Ternyata batu pun bisa menjadi sarana persaudaraan. 

Terlepas dari itu semua, jangan sampai ada yang mempercayakan batu sebagai jimat atau semacamnya. Datangkan rezeki lah, menolak bala lah, pokoknya jangan sampai. Sebab yang mendatangkan rezeki hanyalah Allah. Dan hanya kepada-Nya pula lah kita wajib percaya. Bukan kepada batu. 

Selasa, 13 Januari 2015

Tanda Tanya Seputar Program E-Sabak

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, baru-baru ini mengeluarkan kebijakan baru dalam sistem pembelajaran. Setelah mengganti kurikulum 2013,  pria kelahiran Jawa Barat itu akan menerapkan penggunaan tablet menggantikan buku pelajaran.

Program yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan PT Telkom ini dinamakan dengan E-Sabak atau elektronik sabak. Kata sabak sendiri diambil dari perangkat alat tulis yang dipakai pelajar Indonesia puluhan tahun silam (iberita.com). Anies Baswedan juga mengatakan dengan menggunakan tablet, maka siswa akan lebih interaktif materi belajarnya (Liputan6.com). Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tentunya harus didukung, mengingat pendidikan di Indonesia belum bisa bersaing dengan negara-negara lain. 

Namun, konsep E-Sabak ini masih menuai banyak pertanyaan dari para akademisi dan masyarakat. Karena tidak semua anak-anak -apalagi di daerah pedalaman- mengerti akan teknologi. Ganjar Widiayoga, Mahasiswa program doktor di Durham University, dalam blognya mengatakan, bahwa konsep ini setidaknya dilihat dari lima hal, yakni;

1) Anggaran. Siapakah yang akan mengadakan? Negara ataukah orangtua siswa? Di Los Angeles tahun 2013, ketika pemerintah berniat untuk membelikan iPad bagi setiap murid, anggarannya melebihi 30 juta dolar. Itu untuk 640 ribu siswa. Meski kebijakan itu ditunda karena siswa SMA di LA menghack dan menggunakannya untuk akses social media, namun estimasi anggaran ketika dilakukan di Indonesia setidaknya sudah bisa diprediksikan kalau akan menguras banyak biaya.

2)  Kepemilikan. Jika program ini diadakan, siapa pemilik tablet tersebut?  Apakah negara, sekolah, ataukah siswa? Apakah distribusi tablet akan merata keseluruh siswa di Indonesia? Dan bagaimana dengan siswa yang tinggal di daerah tertinggal yang infrakstruktur dan jaringan internetnya belum memadai?

3) Keamanan. Ganjar Widiayoga membagi dua dalam aspek ini; keamanan fisik dan keamanan content. Sebab menjadi pertanyaan ketika tablet itu dicuri atau rusak, apa tindak lanjutnya? Apakah akan dipasangkan aplikasi Find My iPad, Lost Mode, dan semacamnya agar dapat dideteksi? Apakah dipasangkan aplikasi seperti Lock Screen dimana pencuri tidak dapat menggunakannya? Dan ketika rusak, siapa yang menanggung perbaikan tersebut?

Selain itu, keamanan content juga perlu dijaga. Sebagaimana kasus di Los Angeles, apakah tablet di Indonesia nanti pengamanannya lebih gampang dibobol ataukah sebaliknya? Hal ini untuk mencegah agar para siswa tidak salah menggunakan tablet. Karena selain dapat mengakses social media, siswa juga dikhawatirkan bisa menyontek jawaban ketika ujian.
 
4) Content. Tablet tanpa isi eBook dan aplikasi yang mengedukasi tidak akan memberikan manfaat banyak. Perihal ini, Anies Baswedan sudah menjawab secara umum. Ia juga mengatakan kalau akan ada kuis-kuis yang dapat dikembangkan.

5) Pendidikan guru dan orangtua. Sebab keduanya lah yang membentuk karakter seorang anak. Keduanya juga merupakan teladan bagi para siswa. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa pola mendidik anak yang dilakukan dengan baik mempunyai hubungan positif dengan mutu anak. Adapun tablet hanya merupakan alat bantu dalam pembelajaran. 

Terlepas dari pada itu, perlu ada penelitian atau kajian khusus mengenai ini. Apakah ada korelasi positif antara pengunaan tablet sebagai alat pembelajaran dengan perkembangan kualitas siswa? Semoga dengan program ini, bisa menjadi langkah buat para siswa Indonesia agar dapat bersaing dengan dunia luar sekaligus memgharumkan nama bangsa Indonesia.

Sabtu, 10 Januari 2015

Korupsi Ilmu


Dalam Ta'lim di Mesjid Wihdatul Ummah (10/1/2015), Ketua MIUMI Sulawesi Selatan, Dr. Rahmat Abd. Rahman mengatakan bahwa salah satu pilar utama kebangkitan Islam yakni ilmu pengetahuan. Sebuah peradaban tidak akan terwujud jika umat nya belum merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Lebih lanjut, Dr. Rahmat Abd. Rahman menegaskan bahwa ilmu yang kita pelajari yakni ilmu yang benar (haq), dan bukan ilmu yang batil. Sebab banyak dari universitas-universitas yang berlabelkan agama yang bukannya membela agama, malah menjadi penggugat agama.

Fenomena banyaknya pembelajar agama menjadi penggugat agama itu menurut Prof. Naquib al-Attas terjadi karena adanya "corruption of knowledge" atau 'korupsi ilmu'. Seseorang yang belajar ilmu perbandingan agama, misalnya, pandangan yang tadinya mengatakan bahwa agama Islam yang benar, dapat dirusak dengan relativisme kebenaran dan relativisme iman. Ulumul Quran dapat dirusak dengan masuknya studi kritis terhadap al-Quran yang berujung pada keraguan pada al-Quran. 

Rabu, 07 Januari 2015

Meneladani Rasulullah

Di Istana Negara Indonesia (2/1), Joko Widodo selaku Presiden Indonesia merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam kegiatan tersebut Jokowi mengajak umat Islam untuk meneladani sifat Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut Jokowi menambahkan jika kita bisa meneladani Nabi Muhammad saw dalam gaya hidup sehari-hari kita, ia meyakini bisa menjadi Negara yang besar, makmur, dan sejahtera. (voaindonesia.com)

Keteladanan Nabi Muhammad tidak hanya diakui oleh umat Islam. Namun, diakui juga oleh para cendekiawan barat. Sebut saja Will Durant, Gustav Lebon, La Martin, Thomas Charlye dan masih banyak yang lain. Bahkan salah satu cendekiawan barat yakni Michael H Hart menempatkan Nabi Muhammad diurutan pertama sebagai 100 orang paling berpengaruh di dunia.

Michael H Hart mengatakan “Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).”

Seruan Jokowi untuk meneladani Nabi Muhammad juga disampaikan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY mengatakan, “Mari kita teladani akhlakul karimah beliau dalam kehidupan sehari-hari.” Tentu ini adalah momen yang sangat bagus. Mengingat pemimpin bahkan masyarakat masih jauh dari kepribadian Rasulullah. Hal ini ditandai dengan banyaknya kasus-kasus di televisi ataupun media online. Banyaknya pemimpin yang terlibat korupsi mulai dari lembaga tinggi negara, hingga ke lembaga yang berbasiskan agama. Amanah sebagai pemimpin dikalahkan dengan dengan uang melimpah. Ucapan yang tadinya enggan untuk korupsi hanya bertahan sekian hari. Di masa orde baru, misalnya. Banyak pemimpin yang kerap berkata untuk senantiasa menegakkan hukum. Tapi praktiknya tak jarang hukum mereka telikung dan kepentingan diri, keluarga serta kelompok yang mereka dahulukan. Tak heran muncul pertanyaan, jika performa/pemimpin kedodoran, bagaimana dengan pelajar, sosok calon pemimpin masa depan?

Perlunya contoh teladan yang baik juga merupakan salah satu gejala mengapa bangsa ini tak sehebat bangsa lain. Sebab, tiap hari para anak bangsa kita selalu disuguhi acara-acara yang tak bermutu. Paginya anak-anak disediakan menu joget-joget sambil mengumbar aurat, malamnya mencicipi adegan kisah cinta remaja dari Ganteng-Ganteng Serigala. Jadilah pribadi mereka seperti apa yang mereka idolakan dalam acara tersebut.

Teladan

Nabi Muhammad sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) sangat patut untuk ditiru kelakuannya. Ini terbukti dengan banyaknya ayat dan Hadits yang menggambarkan pribadi beliau. Anas ibn Malik menggambarkan akhlak Rasulullah, “Beliau sosok penyayang, tidak seorang pun datang meminta sesuatu kepadanya kecuali ia memberikan apa yang diminta kalau ada, atau minimal ia menjanjikannya.”

Bukti kasih sayangnya terhadap manusia juga dapat dilihat dari bagaimana Rasulullah mempercepat shalatnya tatkala ada makmum yang lemah, sakit ataupun memiliki keperluan. Bahkan ketika ia mendengar anak kecil yang sedang menangis.

Rasulullah juga sangat toleran terhadap agama lain. Bahkan, sampai dengan wafatnya, Nabi Muhammad saw telah melakukan interaksi intensif dengan seluruh kelompok agama (Paganis, Yahudi, Nasrani), budaya-budaya dominan, dan kekuatan-kekuatan politik terbesar ketika itu (Persia dan Romawi). Sebab, sejak awal umat Islam sudah diajarkan untuk menerima keberagaman dalam agama (Pluralitas). Bahkan, Nabi Muhammad  saw berpesan, Barangsiapa menyakiti seorang dzimmi maka sungguh ia menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah.” (HR Thabrani). Dzimmi adalah non-muslim yang hidup di negeri Islam dan dan mendapat perlindungan karena tidak memusuhi Islam 

Kepemimpinan 

Teladan Rasulullah tidak hanya mencakup aspek spiritual dan ruhaniyyah. Ia juga dikenal dengan pemimpin yang berhasil dalam mengelola pemerintahan dan Negara. Ali Akbar bin Agil dalam tulisannya ‘Seni Memimpin Ala Rasulullah’ menuliskan empat kriteria yang dimiliki oleh Nabi. 1) Siddiq yang artinya jujur. Sebab kejujuran membawa kebaikan bagi siapa saja. Utamanya dalam memimpin suatu bangsa dan masyarakat. Sebaliknya dusta melahirkan keburukan. 2) Amanah yang artinya mampu menjalankan kepercayaan yang diemban di pundak secara professional tanpa mencederai kepercayaan yang sudah diberikan. Karena sikap amanah itu, Rasulullah mendapat gelar al-Amin di belakang namanya. 3) Tabligh yang artinya menyampaikan kebenaran dan berani mengungkapkan kebatilan. 4) Fathanah yang artinya cerdas. Seorang pemimpin hendaknya berilmu. Pemimpin harus tahu bahwa setiap perintah atau arahannya tepat sasaran. Kapan salah satu diantara criteria diatas rontok, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin pun ikut rontok.

Keteladanan Rasulullah juga terbukti dengan adanya kader-kader pemimpin seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, hingga masa peradaban Islam Turki Utsmani. Pemimpin sehebat mereka kabarnya tidak dapat ditemukan dalam peradaban barat. Dimana kedamaian dan ketentraman selalu hadir dalam masyarakat. Toleransi jalan begitu lancar. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Sulaiman Agung (1520 – 1566), Yahudi hidup berdampingan dengan kaum Muslim. Seorang Yahudi Italia, David dei Rossi pada tahun 1535 mencatat kaum Yahudi di wilayah Utsmani malahan memegang posisi-posisi di pemerintahan. Sesuatu yang mustahil terjadi di Eropa.  Berkat prestasi gemilang itu jasa-jasa Islam banyak diambil Barat. Tim Wallace-Murphy dalam bukunya, What Islam Did For Us, mencatat, “Kita di barat menanggung hutang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan.”
         
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sebagai Negara yang mayoritas penduduknya Muslim, maka patut bagi kita untuk meneladani Rasulullah. Sebab keteladanan Rasulullah merupakan referensi yang berlaku bagi siapa saja. Keteladanannya tidak hanya berlaku di zamannya, namun sepanjang zaman. Siapa saja yang meneladaninya, pastilah baik perangainya. Allah berfirman, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu…” (QS al-Azhab ayat 21). Maka mari kita penuhi seruan Jokowi untuk meneladani Rasulullah. Wallahu ‘Alam

Januari, 2015

Jumat, 12 Desember 2014

Islamic Worldview Sebagai Landasan

Islamic Worldview atau pandangan hidup Islam merupakan landasan cara berpikir seseorang secara Islam. Istilah Islamic Worldview dalam tradisi Islam klasik sebenarnya belum diketahui. Namun, bukan berarti Islam tidak memiliki worldview. Barulah ulama pada abad 20 menggunakan tema khusus untuk worldview ini. Diantaranya; Maulana al-Mawdudi dengan istilah Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb dengan istilah al-Tasawwur al-Islamy (Islamic Vision), Mohammad Ashir al-Zayn dengan istilah al-Mabda' al-Islamy (Islamic Principle), dan Prof.Syed Naquib al-Attas dengan istilah Ru'yatul Islam lil wujud (Islammic Wordview).

Tentu saja, bukan cuman Islam yang mempunyai worldview nya. Ada banyak worldview yang bisa jadi kita yang menggunakannya. Ada Western worldview, Christian worldview, Orientalis worldview, Secular worldview, dan pandangan-pandangan lain.

Minggu, 16 November 2014

Ulama

KH. Jamaluddin Amin. Seorang ulama Muhammadiyah itu kini telah berpulang.Sebenarnya, saya tak kenal dengan pria yang tutup usia pada umur 84 tahun ini. Namun, saya selalu saja sedih kalau kehilangan seorang ulama. Tersebab karena dari ulama lah yang bengkok diluruskan, yang kotor dibersihkan. Bahkan, tanpamereka, kita bagaikan binatang. Al-Hasan Rahimahullah berkata,"Andaikan tidak ada orang-orang yang berilmu (ulama), tentu manusia tak beda dengan binatang."

Berbicara mengenai ulama, saya jadi ingat ceramah Ust. Bachtiar Nasir yangmengatakan bahwa kunci keberhasilan tentara Palestina menghadapi Israel yakni karena mereka menaati Ulamanya. Kaidah menaati ulama ini persis seperti apayang ada dalam surah An-Nisaa ayat 59 "Taatiah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulul amri di antara kamu." Ulul amri yang dimaksud menurut para cendekiawan adalah ulama. Kaidah menaati ulama ini juga seperti yang dikatakan As Syeikh Abdur Rahman bin Sa'di bahwa mereka memeluk agama Allah dengan menghormati ulama pemberi petunjuk. 

Dalam berbagai kisah, kita mungkin akan menemukan bagaimana para umat terdahulu sangat dekat dengan ulama. Bahkan ada yang berdoa kalau salah satu kerinduan mereka yakni ketika duduk berdesak-desakan di majelis ulama. Sufyat At Tsauri Rahimahullah berkata, “Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan orang yang berilmu (ulama) adalah penjaga-penjagadunia.” Ia juga mengumpamakan, “Apabila seorang faqih (ulama) berada di puncakgunung, niscaya ia (disana) dapat mendatangkan orang yang banyak.” Sekedar infosaja, Sufyan At Tsauri mempunyai ulama sekitar 600 orang. Adapun seorang Abdulllahbin Abdul Mubarak mempunyai 4000-an ulama.


Zaman kian berkembang. Kondisi Indonesia seakan menunjukan kejahiliyahan. Sana sini kejahatan. Maka pentinglah diri mendapat nasehat ulama. Kita mungkin tak bisa mempunyai ulama sekitar 600 orang layaknya Sufyan At Tsauri ataupun 4000 an ulama seperti Abdullah bin Abdul Mubarak. Namun, diri sangat yakin, bahwa kita bisa mempunyai sedikitnya satuorang ulama.Wallahu a’lam!

November, 2014

Muh. Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.