Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2026

Kucing

Ia masih bingung mau menulis apa hari itu. Kadang ia berpikir, "Apakah lebih baik saya menulis tentang kucing saja?" Belakangan ini ia memang sering kepikiran mengenai kucing yang tergeletak di jalan. Mati. Penuh darah. Ditabrak oleh kendaraan yang entah roda dua atau roda empat. Setelah kejadian, kendaraan lalu lalang tanpa niat berhenti untuk menguburkannya. Termasuk Ia. "Apakah aku termasuk berdosa jika membiarkan kucing itu di jalan tanpa membuatnya tidur beralaskan tanah?" pikirnya. Pemandangan itu selalu ia saksikan ketika kembali ke Parigi Moutong. 

Pernah, di subuh yang bertemankan dingin dan sunyi, ia hampir saja menabrak dua ekor kucing yang sedang berkejaran. Untung kecepatan motornya di bawah lima puluh kilo meter. Kalau kecepatannya di atas itu, mungkin saja, nasibnya seperti kucing lainnya. Saya sudah menitipkan pesan kepadanya. Bahwa, perjalanan menempuh waktu satu hingga dua jam itu, tetaplah berhati-hati. Jangan sampai karena ingin cepat, kamu mengorbankan segalanya. Tak ada yang kamu kejar di setiap subuh itu. Kantormu tidak akan berpindah. Yang harus kamu lakukan, pastikan dirimu selamat sampai tujuan. Kabari Istrimu ketika sudah sampai. Ok?


Jumat, 07 Agustus 2026

Kebun Kopi

Hari libur adalah waktu yang ia selalu nantikan
sebab di hari itulah ia dapat memeluk rindu

Ia rela setiap pekannya bermandikan matahari
berteman kebun kopi
dan angin gunung

Secangkir susu dan sepiring nasi
menjadi alasan mengapa ia melakukan itu

Ia tahu
Ini adalah awal baginya menumpuk ribang

Tapi ia tidak ingin berlama-lama
Sebab ia berjanji



Senin, 25 November 2024

Tips Membangun Kebiasaan Membaca ala Teddy Prasetya


Membaca merupakan salah satu aktivitas yang dapat memperkaya wawasan kita. Dengan membaca, kita juga dapat terhubung dengan orang-orang di sekitar kita. Karena ilmu pengetahuan kita yang selalu berproses, namun tanpa ujung. Membaca juga dapat dimaknai sebagai kegiatan belajar sekaligus menambah perbendaharaan kosa kata. Dengan membaca, tingkat kepercayaan diri seseorang akan meningkat ketika berhadapan dengan publik. 

Namun, di era sekarang ini, membaca bagi sebagian orang merupakan hal yang tabu. Membaca menjadi sesuatu yang amat langka. Karena sangat sulit menemukan orang yang hobinya membaca. Nah, Teddy Prasetya melalu channel Youtubenya, Teddy Prasetya Yuliawan membagi tip bagaimana membangun kebiasaan membaca. Berikut tipnya;

1. Bawalah Buku Ke mana-mana. Aktivitas apapun yang sedang kita kerjakan, pastikan kita selalu membawa buku. Pada tas yang kamu bawa, taruh satu buku di sana. Karena kita tidak tahu, kapan ada momen waktu sedang membaca. Misalnya, pada saat kita belanja bulanan bersama istri, pada saat menunggu antrian atau pada saat momen menunggu, kita bisa gunakan momentum tersebut untuk membaca. Simpan hape sejenak, dan gunakan waktu tersebut untuk membaca.

Sabtu, 25 Mei 2024

Kebaikan

Sewaktu saya menulis ini, waktu telah menunjukkan pukul 23:32. Masih terjaga akibat kopi yang tersisa sebelum magrib kuseruput. Setelah magrib, saya pergi belanja bersama istri. Hujan. Sedikit lagi ia deras. Namun cukup membuat bagian celana cukup basah. Tapi kami tetap berbelanja. 

Sebelum saya ke tempat belanja, saya menyimak video dari Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis film dokumenter di Youtube. Karyanya yang mungkin kalian tahu dalam waktu dekat ini yakni Dirty Vote. Saya mencari beberapa videonya di Youtube setelah membaca karya Tere Liye, Tetaplah Bodoh Jangan Pintar. Salah satu tokoh di sana yakni Dandy yang juga seorang pembuat film dokumenter. 

Tapi bukan itu yang saya mau bahas. Saya tertarik dengan pesan yang diucapkankan Dandhy mengenai kebaikan. Kata beliau, "Yang mahal dari kebaikan yakni konsistensi. Bukan magnitude-nya. Bukan  volume-nya. Tapi frekuensinya. Kebaikan itu diuji oleh waktu. Kebaikan itu tidak bisa one of. Seperti Pemilu. Tapi dari in daily basis."

Terus terang, perkataan itu mengganggu saya. Mungkin karena ia menampar kehidupan saya yang masih belum bisa berbuat banyak. Ya. Yang mahal dari kebaikan itu memang konsistensinya. Kita bisa saja berbuat baik hari ini. Tapi belum tentu besok kita melakukan hal yang sama. 

Berbuat baik itu, tekan Dandhy, akan diuji ketika kita mengharap feedback. Kalau kita berbuat baik dengan harapan kita dapat sesuatu -minimal pujian-, berarti kita belum ikhlas seutuhnya. Ini yang berat. Berbuat baik itu seperti buang air besar. Ketika telah ditunaikan, lupakan. Urusan ada balasan atau tidak, nanti Tuhan yang memberi jawaban.

Berbuat baik berarti menghindari konflik kepentingan. Berbuat baik tidak seperti wahyu yang tiba-tiba datang layaknya para kontestan politik. Orang akan menilai kita baik dari apa yang kita kerjakan sehari-hari, tanpa perlu konten atau gimmick. 

Ingin kuulang sekali lagi.

Ya. Yang mahal dari kebaikan itu yakni konsistensinya

Sabtu, 11 Mei 2024

Belajar dari Sosok Mangge Rante


Sebenarnya, foto di atas merupakan foto yang sudah lama menginap di handphone saya. Ia pertama kali kujemput saat saya sedang melakukan kunjungan ke rumah keluarga korban kecelakaan sewaktu dinas, 12 Februari 2024. Pertama kali saya datang, saya cukup kaget sebenarnya. Ini tokoh apa lagi? Selama ini, foto yang terpajang selalu yakni foto Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua. Tapi, di rumah ini, orangnya berbeda. Tertulis di sana, Mangge Rante. Siapa dia? 

Ngomong-ngomong, alasan saya menulis ini, yakni setelah membaca Biografi Haji Hayun di Majalah Mola Tahun 2023. Kemudian saya teringat foto yang pernah saya ambil sewaktu dinas. Saya penasaran dengan sosok yang saya foto saat itu. Karena, saat saya mengambil foto tersebut, hal yang terbersit pertama kali yakni Tokoh Fiksi atau sejenis tokoh yang agak menyeramkan/keramat. 

Akan tetapi, setelah membaca riwayat beliau, ternyata sosok yang saya takuti awalnya itu merupakan orang hebat. Ia adalah seorang ulama yang berasal dari Enu, Sindue, Donggala, Sulawesi Tengah. Pue Lasadindi atau yang biasa dipanggil Mangge Rante merupakan ulama yang lahir pada tanggal 6 September 1828. Menurut cerita, namanya diambil dari kata 'Nodindi' yang artinya bergoncang. Karena, pada saat ia dilahirkan, bertepatan dengan guncangan yang diiringi hujan, guntur, dan angin topan.

Ulama yang juga merupakan seorang petani ini, mempunyai ajaran yang sampai saat ini masih relevan untuk kita semua. Pertama, ajaran 'Tana Sanggamu' (Tanah Segenggam). Yang mana ini terdiri dari; Ajaran Sanggamu berarti tangan yang menggenggam ibu jari. Kemudian, sanggaku yang berarti menggenggam dengan jari di luar. Dan, Sangga kamu yang bahwa ibu jari sudah terbuka tidak bergabung lagi dengan jari lainnya. Ibu jari dalam bahasa Kaili disebut sebagai “Kotumpu.” “Kotumpu” inilah yang menjadi pusat ajaran yang dikembangkan oleh Pue Lasadindi bahwa sanggamu berpusat pada potensi diri pribadi, sanggata bertumpu pada pengembangan potensi keluarga, dan sanggakamu berorientasi pada potensi lingkungan sosial kampung halaman. Hal ini menandakan bahwa sebagai manusia kita punya potensi yang dapat mengembangkan kepribadian kita, keluarga kita, dan sosial masyarakat.

Kedua, ajaran 'Pangaji Tonji' atau 'Panggerang Tonji'. Ajaran ini menekankan pada baca tulis Alquran serta pembacaaan terhadap alam semesta terutama tanah. Lingkungan merupakan sesuatu yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Karena dari lingkungan alamlah keberlangsungan hidup itu terwujud. Sampai sini, saya menyimpulkan kalau Mangge Rante merupakan Tokoh Ekologi.

Ketiga, ajaran 'Kana Mavali' yang berarti ajaran kecerdasan sebagai lanjutan dari 'Pangaji Tonji'. Inti dari ajaran ini yakni membentuk kecerdasan diri, kecerdasan keluarga, dan kecerdasan masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah. Menurut murid-murid Mangge Rante, filosofi Kanamavali pada kehidupan individual untuk kesehatan cara berfikir yang akan menghasilkan pribadi yang cerdas. 

Sepak terjang Mangge Rante ternyata tak cukup sampai di situ. Diriwayatkan bahwa beliau merupakan tokoh yang akitif melawan penjajah, seperti pada: Perlawanan Kayu Malue 1888; perlawanan Malonda di Gunung Bale melawan Belanda tahun 1901; menolak pembayaran pajak dan melawan semua kebijakan Belanda di Donggala 1902; Pue Lasadindi bersama Datu Pamusu menolak masuknya Belanda dan sekaligus melawan Belanda di Dolo 1903; bergabung dalam Perlawanan Tovoa Langi di Kulawi 1905; menjadi informan penting dalam Perlawawanan Kaleo Langi dalam Perang Sojol 1904; Pue Lasadindi dan Laskarnya membantu dalam Perlawanan Kolomboy di Tojo Una-Una 1926; hingga Pue Lasadindi bergabung dalam perjuangan Merah Putih dan dalam perlawanan yang dilakukan oleh Tanjumbulu di Tojo Una-Una dan Poso 1942.

Apa yang dilakukan Mangge Rante ini, bukan kaleng-kaleng. Banyak teladan dan ilmu yang bisa kita ambil dari beliau. Jadi, sangat wajar jika Pue Lasadindi ini diusulkan untuk menjadi Tokoh Nasional. Sekarang, waktunya kita meneruskan ajaran beliau. \

Sumber:
- Pue Lasadindi: Seorang Bangsawan dan Ulama Kaili oleh Khardawatih
- Tugas Resensi Buku Perjuangan Pue Lasadindi di Tanah Kaili oleh Moh. Fiqran
Muh. Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.