Pernah, di subuh yang bertemankan dingin dan sunyi, ia hampir saja menabrak dua ekor kucing yang sedang berkejaran. Untung kecepatan motornya di bawah lima puluh kilo meter. Kalau kecepatannya di atas itu, mungkin saja, nasibnya seperti kucing lainnya. Saya sudah menitipkan pesan kepadanya. Bahwa, perjalanan menempuh waktu satu hingga dua jam itu, tetaplah berhati-hati. Jangan sampai karena ingin cepat, kamu mengorbankan segalanya. Tak ada yang kamu kejar di setiap subuh itu. Kantormu tidak akan berpindah. Yang harus kamu lakukan, pastikan dirimu selamat sampai tujuan. Kabari Istrimu ketika sudah sampai. Ok?
Kucing
Ia masih bingung mau menulis apa hari itu. Kadang ia berpikir, "Apakah lebih baik saya menulis tentang kucing saja?" Belakangan ini ia memang sering kepikiran mengenai kucing yang tergeletak di jalan. Mati. Penuh darah. Ditabrak oleh kendaraan yang entah roda dua atau roda empat. Setelah kejadian, kendaraan lalu lalang tanpa niat berhenti untuk menguburkannya. Termasuk Ia. "Apakah aku termasuk berdosa jika membiarkan kucing itu di jalan tanpa membuatnya tidur beralaskan tanah?" pikirnya. Pemandangan itu selalu ia saksikan ketika kembali ke Parigi Moutong.
0 komentar:
Posting Komentar