Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Upgrade Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upgrade Diri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2020

Ngomongin Personal Branding (2)

Sumber: Abah.me

Melanjutkan postingan sebelumnya, menurut hemat saya, sebenarnya tak ada teori baku tentang Personal Branding. Kamu mungkin bisa mengaminkan apa yang dikatakan Erwin Parengkua dan Becky Tumewu. Tapi, saya paling suka tentang personal branding yakni apa yang dikatakan Pandji Pragiwaksono dan Dewa Eka Prayoga. Inti dari personal branding ialah karya.

Untuk membangun personal branding -kata Kang Dewa-, paling tidak ada tiga hal yang mesti kamu lakukan. Pertama, kamu harus punya kompetensi. Kalau kamu ingin dikenal sebagai seorang chef, maka kompetensi kamu yakni memasak. Kalau kamu ingin dikenal sebagai pemain bola, kamu harus berlatih layaknya Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo. Karena, ketika kamu tidak punya kompetensi, itu berarti kamu tidak mempunyai sesuatu yang bisa dijual. 

Setelah kompetensi, yakni reputasi. Reputasi kamu apa? Reputasi ini bisa berupa karya atau portofolio. Kamu mungkin sudah melewati tahap pertama di mana kamu sudah bisa masak, pertanyaan selanjutnya, adakah resep-resep yang kamu ciptakan sendiri? Kamu mungkin sudah bisa menulis, tapi adakah buku yang telah kamu terbitkan? Kamu telah melabeli diri sebagai seorang desain grafis, mana hasil desain kamu? Jika kamu mempunyai reputasi, maka tunjukkan kepada orang-orang dan mereka akan melirikmu. Mempertimbangkan. Bahkan, mengajakmu ngopi dan ngobrol project besar.

Selanjutnya, yakni prestasi. Prestasi ialah hasil dari kompetensi dan reputasi. Apabila kita terus latihan untuk mencapai momen terbaik dalam brand yang akan kita tuju, maka selanjutnya yakni berprestasi. Jadikan karya kita juara saat mengikuti lomba. Dengan hal itu, kita akan semakin dipercaya masyarakat. "Wah, memang dia itu jago menulis. Novelnya juara 1 tingkat nasional" 

Dengan ketiga "'-si' tersebut, personal branding kita akan menguat. Namun perlu diingat, seperti pada postingan sebelumnya, membangun branding itu bukanlah pekerjaan mudah. Harus konsisten. Belajar. Asa diri menjadi pribadi yang baik dalam brand kita. Insyaallah, pasti berhasil.

Brand kita menunjukkan siapa kita. Citra diri kita. Pada akhirnya, pertanyaan itu mesti saya ulang lagi.

Sudah siap membangun personal branding kita?

Sabtu, 20 Juni 2020

Ngomongin Personal Branding (1)


Pada postingan kali ini saya mau sharing apa yang saya dapat tanggal 13 Juni 2020. Jadi, pada tanggal tersebut saya sempat mengikuti Zoom Meeting yang diadakan kantor. Kantor saya memang sering mengadakan semacam sharing knowledge setiap hari sabtu.

Balik lagi ke tanggal tersebut. Nah, hari itu ada jadwal bersama Becky Tumewu. Teman-teman mungkin udah tahu Mbak Becky sejak lama. Tapi, saya sendiri baru tahunya tahun ini. Materi yang dibawakan yakni materi tentang Personal Branding. Materi yang saya tunggu-tunggu. 

Sesi awal dimulai dengan pertanyaan apa itu personal branding? Jadi kata Mbak Becky dalam slide presentasinya Personal Branding yakni, impresi yang mencerminkan nilai, keterampilan, perilaku dan prestasi yang tercipta secara sengaja ataupun tidak sengaja dengan tujuan mencitrakan diri.

Personal Branding ada yang natural, dan ada yang created atau dibuat-buat. Mbak Becky kemudian mencontohkan Lady Gaga. Kita ketahui bersama, bahwa Lady Gaga ialah penyanyi yang nyentrik, pakaiannya kadang gak jelas. Misal, dalam suatu acara dia memakai pakaian yang terbuat dari daging. Apa yang dilakukan Lady Gaga ialah apa yang akan ditunjukkan kepada masyarakat. Lady Gaga berhasil menciptakan personal brandingnya di sana. 

Mbak Becky kemudian menuturkan, branding seseorang kadang ditentukan dari apa yang dipakai, apa yang diucapkan. Dan itu ada yang natural, pun ada yang dibuat-buat. Misal, kita tentu mengenal Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi. Apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar namanya? Ya. 'Tenggelamkan'. Itulah branding Ibu Susi.

Untuk lebih jelasnya, Natural Personal Branding yakni sesuatu yang spontan, konsisten, atau jujur yang melekat pada seseorang. Misal, ketika kamu dikasih project A, spontan kamu mengiyakannya. Tanpa pikir panjang. Nah, bisa jadi personal branding kamu di sana. Adapun yang Created Personal Branding yakni berupa skill, pengetahuan, tutur kata, dan berpakaian. 

Nah, untuk menciptakan personal branding tersebut, selain dari dua hal tadi, tentu kita harus punya goal. Nilai, keterampilan, perilaku itu ialah komponen utama. Pastikan kita menanam benih yang baik pada diri kita. Adapun keunikan, otentik, total look itu ialah komponen tambahan. Hal ini akan menunjang personal branding kita. 

Dengan komponen utama dan tambahan yang kuat, maka branding kita juga akan semakin kuat. Tentu ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Diperlukan konsistensi agar target kita tercapai. Karena dengan hal itu, orang-orang akan tahu siapa kita. 

Oh iya, ini kenapa aku nulisnya ada part satu? Karena rencana aku mau ngomongin personal branding lagi. Entah kapan sih. Tapi yang paling penting, apakah teman-teman sudah menemukan personal brandingnya? Jika belum, tunggu part duanya.

Jumat, 19 Juni 2020

Tipe Orang I, T, dan X

Sumber: Dribbble.com

10 Agustus 2018, saya pernah menulis di Instagram perihal spesialisasi dan generalisasi. Dua hari yang lalu, Rio Purba kembali mengingatkan hal yang serupa. Tapi dengan bahasa yang berbeda. Inti dari keduanya gini, apakah kamu ini generalis atau spesialis? Sejujurnya, saya cukup merenungkan hal ini sejak lama. Tipe apakah sebenarnya saya ini?

Untuk lebih jelasnya, ada orang yang tipe I, tipe T, dan tipe X. Orang yang masuk kategori tipe I ini adalah orang spesialis. Kata Andrew Wilshere, seorang designer, golongan orang I ini orang yang pengetahuannya lebih mendalam dan berpengalaman dalam satu area atau bidang ilmu. Tipe seperti ini menurut Andrew tidak cocok untuk berkolaborasi atau projek ramai-ramai.

Golongan T yakni golongan orang yang punya banyak pengetahuan, tapi tidak terlalu mendalam (rata-rata), namun ada satu skill yang sangat dikuasainya. Dia juga cukup berpengalaman untuk satu hal itu. Itulah mengapa dikatakan T, karena ada satu yang menonjol ke bawah.

Yang menarik, dan ini aku baru tahu juga, yakni golongan X. Rupanya ada juga tipe ini. Seperti apakah tipe ini? Melanjutkan tulisan Andrew Wilshere, golongan X ini yakni para leader. T-shaped people are great collaborators. But when it comes to hiring a new leader for an organisation, the qualities are more X-shaped. Lebih lanjut Andrew menulis, "roles demanding X-shaped people tend to be focused on strategy and team management, rather than the coalface design work."

Balik lagi ke diri saya sendiri. Sejujurnya saya ini suka galau juga mau ngembangin skill yang mana agar benar-benar ahli. Mengingat saya ini generalis garis keras. Semua hal ingin dicoba. Ada yang baru, dicoba lagi. Pingin bisa semuanya. Ini wajar gak sih?

Jika dirunut, saya punya kemampuan dalam hal; Adobe Photosop, Menulis, Edit Video, dan Musik. Untuk musik, sepertinya tidak begitu terlalu tertarik. Saya tak ingin dikenal jadi musisi. Desainer? Sound interesting. But, sepertinya tidak deh. Cukuplah dia menjadi kemampuan rata-rata. Edit video? Ini juga menarik banget sih. Tapi kayaknya nggak. 

Setelah saya menarik benang merah. Sepertinya di antara semua kemampuan, mungkin kemampuan menulis yang paling aku bisa. Sekarang tinggal perdalam dan latihan aja. Mau jadi penulis apa. Jujur yah, belakangan ini suka mikir apa 'portofolio' yang bisa aku perlihatkan ke orang-orang?

Menulis fiksi? Meski suka membaca dan pernah menulis fiksi, tapi rasanya tak mau tergoda dulu. Kagak bisa sepertinya saya menulis cerpen, atau novel. Mungkin bisa. Tapi suatu hari. Hahaha

Saat ini, rasa-rasanya pingin menulis nonfiksi saja. Menulis random tentang keseharian. Dari kantor, cinta, dan apapun itu yang dengan leluasa aku menulisnya.

Kalau teman-teman, ingin menjadi seperti apa?


Kamis, 18 Juni 2020

Kelangkaan

Sumber: Google

Dalam studi ekonomi, ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh para cendekia. Salah satunya ialah, "Mengapa harga berlian lebih mahal dibanding air? Bukankah air lebih dibutuhkan dibanding berlian? Seseorang bisa mati dalam sehari jika persediaan air tidak ada, sebaliknya tanpa sekarung berlian, kita masih bisa hidup. Lantas mengapa harga berlian lebih mahal dibanding air?"

Dalam buku 'Path of Life' karya Komaruddin Hidayat, ada sebuah kisah menarik tentang air.  Diceritakan bahwa Sang Raja -yang kaya dan perkasa- sedang berburu kijang menggunakan kudanya. Namun, tanpa sadar, perburuan membawanya ke luar teritorial Istana. Sang Raja kini berada di padang pasir nan luas dan tandus. Ia kaget. Dalam keadaan seperti itu, ia merasakan capek dan haus yang tak terkira.

Hingga, lewatlah seorang Mufasir yang ditunggu-tunggu oleh Sang Raja. Sang Raja senang sekali. Terjadi perbincangan. "Kalau boleh tahu, mengapa saudara di sini, sudah berapa lama, dan apa yang bisa aku bantu?" kata Mufasir. Sang Raja menjelaskan siapa dirinya dan sebab ia tersesat karena berburu seekor kijang. Perbekalannya juga telah habis.

Musafir hendak menolong. Namun, begitu tahu kalau di hadapannya adalah seorang Raja, ia pun berubah pikiran. Musafir ingin sebagian bekalnya ditukar dengan uang. Mendengar permintaan itu, Sang Raja berkata, "Kamu sungguh keterlaluan. Sudah tahu saya ini raja, mestinya menghormati, bukan mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain." Mendengar hal itu, Musafir tersinggung. "Ya sudah, selamat tinggal. Saya mau meneruskan perjalanan," kata Musafir.

Mendengar jawaban Musafir, hati Raja melunak. Di benaknya muncul bayangan yang mengerikan andaikan dia tidak segera mendapat pertolongan air, dia pasti akan mati konyol di padang pasir. Dialogpun terjadi. Tetapi, tawaran kali ini di luar dugaan raja. Separuh bekal ditukar dengan imbalan istana. Raja kesal, tapi tak berdaya. Maka tak ada pilihan lain, air pun ditukar dengan Istana.

Dari cerita di atas, posisi air lebih tinggi dibanding Istana. Istana atau berlian menjadi rendah derajatnya. Namun, jika kita menengok film Blood Diamond, kita akan dapati berlian yang sebesar jempol dihargai miliar dollar. Kelangkaan (scarcity) membuat seseorang rela mengorbankan hal besar untuk memperoleh yang sedikit.

Jika kita menarik makna kelangkaan tersebut pada sifat yang membentuk karakter masyarakat, maka ada satu karakter yang juga langka. Apalagi dengan zaman milenium sekarang ini. Yakni, 'ketekunan'. Ia seperti mutiara di dasar laut yang dicari banyak orang. Tapi ia tidak sepenuhnya mutiara. Ia dibentuk dan diciptakan oleh manusia-manusia yang siap akan tantangan dan cobaan. Nilainya juga tak pernah habis. Ia akan selalu dibutuhkan sepanjang hayat.

Pertanyaan selanjutnya, adakah karakter langka itu di dalam dirimu? Jika kamu belum menemukannya, maka bentuklah dia. Percayalah ketekunan melahirkan hal-hal yang tidak kamu sangka dalam hidupmu.



Muh. Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.