Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2020

AKHLAK, BUMN, dan Masa Depan Indonesia


Akhlak merupakan salah satu sifat yang disegani banyak orang. Mereka yang berakhlak tahu kapan harus berbuat dan memutuskan. Sebab, telah tertanam pada diri nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan etika-etika dalam kehidupan. Lantas, bagaimana jika akhlak itu ditancapkan pada nilai-nilai perusahaan? 

Seperti yang telah kita ketahui bersama, baru-baru ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan transformasi besar-besaran. Dari direksi, hingga logo. Harapannya tidak lain agar BUMN semakin baik kedepannya dan apa yang dicita-citakan tercapai. Hal ini tertera dalam UU BUMN No.19 Tahun 2003 tentang maksud dan tujuan BUMN, yakni menciptakan nilai tambah (keuntungan), dan menyelenggarakan kemanfaatan umum dan menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha baru (agent of development), dan dengan dukungan dari Kementerian BUMN. 

Salah satu transformasi yang dilakukan oleh Bapak Erick Tohir selaku Menteri BUMN yakni menjadikan AKHLAK sebagai Core Values perusahaan. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor: SE-7/MBU/07/2020 tentang Nilai-Nilai Utama (Core Values) Sumber Daya Manusia Badan Usaha Milik Negara pada tanggal 1 Juli tahun 2020. 

Akhlak sendiri merupakan akronim dari Amanah, Kompetensi, Harmonis, Loyalitas, Adaptif, dan Kolaborasi (AKHLAK). Dengan mengalirnya DNA AKHLAK itu pada setiap perusahaan, maka margin mencapai kesuksesan perusahaan tentu lebih besar. Hal ini juga akan meminimalisir catatan merah pada setiap BUMN yang ada, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat. 

Bab AKHLAK ini diperjelas oleh Anindita Eka Wibisono, Asisten Deputi Bidang Asuransi dan Jasa Lainnya Kementerian BUMN, dalam suatu Webinar yang diadakan oleh PT Jasa Raharja bulan Juli 2020. Menurutnya, BUMN dapat sukses di kancah internasional apabila dapat melakukan transformasi bukan hanya dari sisi fokus bisnis saja, namun juga manusia dan budaya Perusahaan. Dengan memegang nilai-nilai AKHLAK. 

Anindita menambahkan, internalisasi nilai AKHLAK ini akan mendorong perusahaan untuk More Viable dan More Agile. Di era pandemi covid-19 sekarang ini, skenario terburuk apabila tidak mampu bertransformasi yakni perusahaan dapat tereleminasi dalam persaingan global. Sebaliknya, jika perusahaan berkembang dan melakukan perubahan dengan baik, maka bukan tidak mungkin kita dapat menguasai pasar dan menghadapi persaingan global. 

Sebagaimana ungkapan Frances Hesselbain, “Culture does not change because we desire to change it. Culture changes when the organization is transformed, the culture reflects the realities of people working together every day.” 

Mengenal AKHLAK 

Seperti yang disebutkan di atas, AKHLAK ialah Amanah, Kompetensi, Harmonis, Loyalitas, Adaptif, dan Kolaborasi. Pondasi yang pertama yakni Amanah. Amanah ialah dapat memegang teguh kepercayaan yang diberikan. Mereka yang amanah dapat memenuhi janji dan komitmen terhadap tugas yang diberikan, serta bertanggung jawab atas tugas, keputusan, dan tindakan yang dilakukan. Nilai moral dan etika menjadi pegangan teguh bagi para pemimpin yang di dalam dirinya mengalir DNA Amanah. Dengan hal tersebut, kepercayaan dapat dibangun. 

Menarik apa yang disampaikan Stephen R Covey, Penulis The Speed of Trust dalam suatu seminar di acara “BNI Inspiring Lecture Series. Menurutnya, dalam dunia yang kepercayaannya rendah, kita tidak boleh konyol tapi harus cerdas. (portalhr.com). 

Pondasi yang kedua, yakni kompeten. Kompeten berarti siap menjadi pribadi yang terus belajar dan mengembangkan kapabilitas. Era yang akan datang akan melibas para leader yang enggan untuk belajar. Karena dengan pondasi ini, kita dapat menjawab isu-isu bisnis yang bisa jadi di luar nalar kita. 

Pondasi berikutnya yakni harmonis. Kata harmonis apabila kita ketik di google sering dikaitkan dengan keluarga atau pasangan. Akan tetapi, dalam dunia perusahaan, keharmonisan juga diperlukan. Menanamkan prinsip harmonis sama artinya dengan siap membantu dan mendorong satu sama lain. Menghargai perbedaan. Apa jadinya jika lingkungan kerja tidak dilandasi dengan sikap harmonis? Tentu iklim kantor akan lebih suram dan tidak kondusif. Antara satu dan yang lain saling menumbuhkan sifat saling curiga, atau lebih buruk lagi, saling menjatuhkan. Padahal idealnya, kita harus tumbuh bersama. 

Pondasi keempat yakni loyal. Loyal berarti siap berdedikasi untuk kepentingan bangsa dan negara. Mereka yang loyal akan menjaga nama baik perusahaan tempat ia bekerja dan siap mendorong pertumbuhan perusahaan. Apabila data-data perusahaan diberikan, maka ia akan menjaga kerahasiaan tersebut. 

Pondasi selanjutnya ialah adaptif. Kita tentu masih ingat dengan Nokia. Perusahaan tersebut mati tersebab tidak dapat bertarung dengan zaman. Oleh karena itu, diperlukan pribadi yang terus antusias dalam berinovasi, dan proaktif guna menjawab tantangan di masa yang akan datang. 

Pondasi terakhir ialah kolaboratif. Sekarang ialah eranya kolaborasi. Bukan untuk saling menjatuhkan. Saatnya berjalan beriringan mencapai tujuan yang besar. Dengan adanya sinergi dari setiap sektor, maka margin kesuksesan perusahaan akan lebih besar. Sehingga mampu menciptakan kontribusi lebih terhadap bangsa. 

Dengan menyatunya pondasi ini pada insan BUMN, maka masa depan Indonesia ibarat bunga yang mekar. Kita akan takjub dengan naiknya pertumbuhan ekonomi. Kita akan takjub dengan lahirnya pemimpin-pemimpin berbudi. Sebab AKHLAK telah mengalir dalam imun mereka. Mari berAKHLAK!

*Dimuat di Radar Sulteng, 28 September 2020

1 komentar:

Muh. Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.